Meminta Maaf dari Sesama, Memberi Maaf kepada Sesama

Walaupun sudah masuk bulan Zulqa’dah, ahad pagi itu diisi oleh ust Muhammad Rifqi Arriza dengan tema yang sebenarnya khas dibahas di bulan syawal, yaitu meminta maaf dan memberi maaf.

Ust Riza membuka kajian dengan memaparkan perbedaan budaya di Indonesia dan Timur Tengah, khususnya di Mesir. Bahwa termasuk kekhasan budaya lebaran di Indonesia adalah ritual silaturahim dan acara maaf-maafan, budaya yang bisa hanya ada di beberapa negara muslim asia tenggara, tidak ada di dunia Islam lainnya. Hal itu berkaitan juga dengan budaya mudik alias pulang kampung, bagi para pekerja urban di kota besar.

Sejatinya, budaya saling meminta maaf harusnya dilestarikan di malam nisfu syakban. Hal itu sejalan dengan hadis berikut;

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Dari Muadz bin Jabal ra., dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda: Allah memperhatikan seluruh hamba-Nya pada malam nisfu syakban, maka Dia mengampuni seluruh makhluknya, kecuali seorang musyrik atau seseorang yang sedang berselisih dengan saudaranya. (HR. Thabrani)

Meminta Maaf

Dalam hadis bangkrut, yg cukup terkenal, dijelaskan bahwa pahala ibadah vertikal antara hamba dan Rabb nya, akan tergerus habis oleh dosa horizontalnya kepada manusia lain. Dosa melukai hati seseorang, memfitnahnya, menipunya, berhutang tak mau membayar, dan memukul, bahkan membunuhnya, semua itu dapat menghadirkan siksa yang berat di akhirat sana. Pertama-tama, pahalanya akan ditransfer kepada mereka yang dizaliminya. Jika belum juga lunas, maka dosa mereka yang terzalimi, ditransfer balik kepada orang yang telah menzaliminya di dunia. Sebagai ganti rugi atas kezalimannya. Bangkrut betul.

Lebih lengkapnya, mari kita simak hadis Nabi berikut:

أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟ قالوا: المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ، فقالَ: إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ.

“Tahukah kalian siapa yang disebut sebagai orang yang bangkrut (muflis)?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sementara kezalimannya belum terbayar, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)

Realita ukhrawi tersebut seharusnya menjadi reminder kita, mumpung masih di dunia, hendaknya kita segera meminta maaf jika ada salah, mengembalikan hak orang lain yang masih ada pada diri kita.

Memberi Maaf

            Adapun dalam konteks memberi maaf, ada satu kaidah psikologi yang penting untuk kita renungkan. Bahwa memelihara dendam akan menimbulkan banyak penyakit bagi manusia, penyakit fisik yang muncul dari penyakit non fisik, sudah banyak contohnya. Dalam hal ini, ada hadis panjang, dimana Nabi meng-endorse seorang sahabat sebagai penghuni surga -kelak di akhirat-. Ternyata saat diteliti oleh Ibnu Umar ra., sahabat tersebut ternyata punya amalan khusus, yaitu memaafkan semua yang melukainya sebelum terlelap tidur di malam hari.

Ada dalil lain yang lebih tajam tentang fadilah memberi maaf, yaitu firman Allah Swt. pada surat al-Nur ayat 22;

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۖ وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Mari fokus pada redaksi ayat “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?”. Karena salah satu sebab utama ampunan Allah, adalah saat kita mau mengampuni kesalahan orang lain saat hidup di dunia. Dan sebaliknya, jangan sampai kita menimbun dendam dan bersumpah untuk tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, takutnya hal itu menjadi sebab tidak diampuninya kita di akhirat nanti. Wal ‘iyadzu billah.

Ada satu kisah seorang ulama besar, tapi saking zuhud dan wara’nya, beliau jualan sayuran di pasar, setiap hari. Beliau, sang ulama, tau betul, bahwa banyak pelanggannya yang tidak mengambil sayurnya sesuai harga beli, tapi lebih. Bertahun-tahun beliau mendapati itu, dan beliau diam saja. Lalu pada saat sakratul maut, beliau bermunjat kepada Allah; “Ya Allah, dengan wasilah aku memaklumi dan memaafkan mereka yang mengambil daganganku lebih dari yang seharusnya, maka ampunilah aku atas segala dosaku, apalagi dari hal yang Engkau lebih tau dariku”. Munajat yang menunjukkan maqam sang ulama, dan pengharapan yang besar atas maghfirah Allah Swt.

Maka dari itu, mari menjadi pribadi yang gemar meminta maaf kepada orang lain, sekaligus ringan memberi maaf kepada mereka yang berlaku salah kepada kita. Semoga dengan kedua laku tersebut, kita dapat selamat dari hisab berat di akhirat, sekaligus mudah untuk mendapatkan ampunan Allah Swt. Amin ya Rabbal Alamin. []

Resume: Nurlina Djamil

Editor: Muhammad Rifqi Arriza

Related Articles