Kumpul Kembul Tukul: Kearifan Lokal di Balik Nadi Kehidupan Muhammadiyah

Oleh : Ramanda Taufiq

Dari kumpul lahir silaturahmi, dari kembul tumbuh solidaritas, dari tukul lahir peradaban.”

Memasuki usia 113 tahun, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai gerakan dakwah dan tajdid (pembaruan), tetapi juga sebagai gerakan Islam yang berkemajuan memiliki kekuatan sosial yang tumbuh dari denyut kehidupan masyarakat merupakan semangat perjuangan yang berpijak pada nilai-nilai luhur yang membumi. Dalam usianya yang matang ini, semangat Muhammadiyah tidak lekang oleh waktu, sederhana namun sarat makna karena berakar kuat pada nilai-nilai lokal yang membumi — salah satunya adalah falsafah “Kumpul Kembul Tukul”.

Salah satu ungkapan yang mencerminkan semangat tersebut adalah “Kumpul Kembul Tukul” — sebuah falsafah lokal yang mengajarkan arti penting berkumpul untuk bermusyawarah, berbagi dalam kebersamaan, dan tumbuh dalam kemandirian.

Makna Filosofis: Muhammadiyah yang Hidup di Tengah Umat

Dalam budaya Jawa, “kumpul” berarti berkumpul; “kembul” berarti makan bersama atau berbagi rezeki; sedangkan “tukul” berarti tumbuh atau berkembang. Ketiganya mencerminkan siklus kehidupan sosial yang selaras dengan prinsip dakwah Muhammadiyah: bersama, berbuat, dan bertumbuh untuk kemaslahatan umat.

Sejak berdirinya pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak pernah lepas dari denyut kehidupan rakyat kecil. Pengajian kampung, madrasah sederhana, rumah sakit rakyat, hingga koperasi syariah — semuanya tumbuh dari semangat kumpul kembul tukul: kebersamaan yang melahirkan gerakan, dan gerakan yang menumbuhkan kemajuan.

Inilah wajah asli Muhammadiyah: gerakan yang tidak hanya berpikir global, tetapi berakar kuat pada nilai-nilai lokal dan realitas masyarakat.

Kumpul: Menyatukan Kekuatan Jamaah

Di usia ke-113 ini, kumpul menjadi simbol penting untuk memperkuat ukhuwah dan soliditas persyarikatan. Muhammadiyah tumbuh karena kekuatan jamaah dan jama’iyah, bukan individu. Ketika warga, kader, ortom, dan amal usaha saling terhubung dalam visi yang sama, maka lahirlah energi kolektif yang mampu menggerakkan perubahan.

Melalui pengajian, musyawarah, forum kaderisasi, hingga majelis taklim di pelosok desa, semangat “kumpul” harus terus dijaga. Karena di situlah denyut hidup Muhammadiyah berawal — dari ruang-ruang kecil tempat ilmu ditanam dan semangat dibagi.

Kembul: Membangun Solidaritas dan Kepedulian Sosial

“Kembul” adalah simbol kebersamaan dan empati sosial. Dalam tradisi Jawa, makan bersama tidak sekadar mengenyangkan perut, tetapi menghangatkan hati dan menyatukan rasa.

Spirit ini sejalan dengan nilai ta’awun (tolong-menolong) dan tasamuh (toleransi) dalam Islam. Di era modern yang sering terpecah oleh ego sektoral dan perbedaan pandangan, Muhammadiyah perlu menghadirkan kembali “kembul” dalam praksis sosial — berbagi pengetahuan, berbagi kepedulian, dan berbagi rezeki untuk kemaslahatan bersama.

Amal usaha Muhammadiyah — dari sekolah, universitas, rumah sakit, hingga panti asuhan — sejatinya adalah wujud nyata dari “kembul” dalam gerakan: kebersamaan yang menumbuhkan kemanfaatan.

Tukul: Tumbuh dan Berkemajuan

Dari “kumpul” dan “kembul” lahirlah “tukul” — pertumbuhan.

Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada kerja sosial, tetapi tumbuh menjadi gerakan Islam berkemajuan yang berorientasi pada masa depan.

Kini, tantangan era digital, perubahan iklim, hingga krisis moral global memanggil Muhammadiyah untuk tampil sebagai pelopor peradaban baru. “Tukul” berarti terus menanam nilai dan inovasi — menumbuhkan kader unggul, mencetak amal usaha mandiri, dan melahirkan gagasan-gagasan yang relevan dengan zaman.

Sebagaimana benih yang baik akan tumbuh di tanah yang subur, demikian pula gerakan Muhammadiyah akan terus tumbuh jika berakar pada nilai-nilai luhur dan kearifan lokal umat.

Dari Kearifan Lokal Menuju Gerakan Global

Falsafah “Kumpul Kembul Tukul” bukan sekadar simbol budaya, tetapi strategi moral dan sosial bagi gerakan Muhammadiyah masa kini.

Dari akar lokal itulah Muhammadiyah bisa menumbuhkan pengaruh global — menjadi gerakan Islam modern yang tetap berpijak pada realitas rakyat, sekaligus membawa semangat kemajuan ke panggung dunia.

Milad ke-113 ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nadi kehidupan persyarikatan:

  • Meneguhkan spiritualitas dan akhlak sosial.
  • Menguatkan kolaborasi antar level organisasi.
  • Menumbuhkan inovasi, kemandirian, dan kader unggul.

Dengan demikian, “Kumpul Kembul Tukul” bukan hanya warisan budaya, tetapi mantra kebangkitan Muhammadiyah berkemajuan — gerakan yang hidup di tengah umat, tumbuh bersama masyarakat, dan memberi manfaat bagi seluruh semesta.

“Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tapi gerakan kehidupan.”
Dari kumpul  kita menemukan silaturahmi, dari kembul  kita merajut kepedulian, dan dari tukul   kita melahirkan kemajuan.

Selamat Milad ke-113 Muhammadiyah.

Teruslah tumbuh dari akar kearifan lokal menuju peradaban global.
Mari jadikan semangat “Kumpul Kembul Tukul” sebagai napas perjuangan menuju Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, dan mencerahkan semesta.

Related Articles