Kabarpatimu.com – Pati – Al-Qur’an Surat Ali Imron [3] ayat 188 menyajikan peringatan tegas dari Allah SWT mengenai dua sifat buruk yang sangat berbahaya: bergembira atas perbuatan dosa dan suka dipuji atas kebaikan yang tidak dilakukan. Fenomena ini, yang semakin marak di era digital sebagai ‘dosa yang dipamerkan’ atau mencari applause atas kebohongan, diancam dengan azab yang pedih.
Ayat tersebut berbunyi:
“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.” (Q.S. Ali Imron [3]: 188)
Gembira di atas keburukan dalam tafsirnya, ayat ini mencakup karakter individu yang bukan hanya melakukan kesalahan atau dosa, tetapi juga merasa bangga dan gembira dengan perbuatan buruk tersebut. Di era modern, ini relevan dengan fenomena memamerkan kemaksiatan, flexing (pamer) secara berlebihan, atau bangga dengan penyelewengan. Kegembiraan jenis ini menunjukkan tertutupnya pintu hati terhadap kebenaran dan tobat.
Pujian palsu yang membinasakan bagian kedua ayat ini menggarisbawahi bahaya mencintai pujian atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan. Ini mencerminkan sifat munafik atau riya yang ekstrem, di mana seseorang berusaha keras menipu publik demi mendapat sanjungan dan kedudukan, padahal realitas amalnya kosong. Para ulama tafsir menjelaskan, orang yang memiliki dua karakter ini—bangga dengan keburukan dan haus pujian palsu—telah menutup jalan bagi dirinya untuk mendapat ampunan. Mereka merasa telah ‘sukses’ dalam penipuan diri dan orang lain.
Ancaman azab yang pedih Allah SWT menutup ayat ini dengan penegasan bahwa mereka tidak akan lolos dari azab. Ancaman azabun alīm (azab yang pedih) ditujukan kepada mereka yang menyukai dan mempromosikan kebatilan sambil menuntut pengakuan atas kepalsuan.
Oleh karena itu, ayat ini menjadi filter bagi setiap Muslim agar menjaga hati dari sifat ujub (bangga diri) dan riya (pamer), serta senantiasa berusaha menutupi aib dan dosa, bukan malah memamerkannya.(red)


