Menyikapi pemimpin Atsaroh

Ahad pagi itu terasa beda, karena kajian rutin ahad pagi di Masjid Moch Dahlan, Pati, akan diisi oleh ust Abdul Wahid, dari PDM Kudus. Beliau adalah alumni PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) Jogja, lalu selesai magister di UM Surakarta. Saat ini beliau adalah ketua LDK (lembaga dakwah komunitas) PDM Kudus.

Ust Wahid membuka kajian tentang tema Pemimpin yang Atsarah dengan menyitir hadis tentang 2 tipe pemimpin; “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim no. 1855).

Lalu beliau menyampaikan, jika kita ditakdirkan mendapat mendapati pemimpin yg atsaroh (mementingkan diri dan kelompoknya dari rakyatnya), maka harus bersabar  sampai bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam di Telaga Kautsar (muttafaqun ‘alaih). Salah satu bentuk kesabaran adalah menjaga lisan dan anggota tubuh kita agar tidak berbuat yg harom.

Gambaran Telaga Kautsar

Sebagai balasan bagi mereka yang telah bersusah payah untuk bersabar, saat mendapati pemimpin yang bersifat atsarah, Allah telah menyiapkan telaga kautsar baginya, sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah Saw. Berikut adalah beberapa gambaran tentang keutamaan telaga kautsar:

1. Airnya lebih putih dari susu (HR. Bukhori Muslim),

2. Lebih dingin dari salju ( HR. Ahmad),

3. Lebih manis dari madu

4. Lebih harum daripada misk

5. Tidak akan haus selamanya (HR. Muslim)

Semoga kita semua dapat meneguk manisnya air telaga kautsar, bersama Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.

Tapi di balik semua itu, pertanyaanya adalah kenapa Allah memberikan kepada kita seorang pemimpin yg kurang/tidak bagus? Jawabannya, pemimpin adalah gambaran dari masyarakatnya.

Ketika sebagian masyarakat mengkritik pemerintahan, salah seorang khalifah Bani Umayyah—disebut oleh sebagian ulama sebagai Abdul Malik bin Marwan—mengumpulkan para tokoh masyarakat dan berkata:

«أَتُرِيدُونَ أَنْ نَكُونَ لَكُمْ كَمَا كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ؟»

“Apakah kalian ingin kami menjadi pemimpin bagi kalian sebagaimana Abu Bakar dan Umar?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Kemudian ia berkata:

«فَكُونُوا كَالرِّجَالِ الَّذِينَ تَوَلَّيَا عَلَيْهِمَا، نَكُنْ لَكُمْ كَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ»

“Maka jadilah kalian seperti orang-orang yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, niscaya kami akan menjadi seperti Abu Bakar dan Umar bagi kalian.”

Sebagai penegas hal tersebut, Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman/penolong bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘am: 129)

Ayat ini menjelaskan  pemimpin bagi sesamanya sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri (karena rakyatnya mau disogok, dibodohi dengan BLT, dlsb).

Bagaimana sikap kita?

Bila mendapati pemimpin yg buruk, hendaknya kita;

1. Assam’u wat tho’ah, tetap dengar dan taat pada pemimpin (selama tidak melanggar syariat). Bila hak rakyat (kita) tidak tertunaikan, mintalah kepada Allah  (hadis Nabi).

2. Bersabar

Selain itu, ada hal penting yg harus diperhatikan dalam konteks pemimpin. Yaitu pentingnya penasihat bagi seorang pemimpin. Dulu, penasihat bagi khalifah seperti Abu Bakar ra. & Umar ra. adalah para ulama dan penghafal al-Qur’an. Sayangnya, hari ini kita melihat para penasihat yang tidak lebih kompeten dari sang pemimpin.

Dan sebagaimana hadis Nabi, menasihati pemimpin yg dzalim adalah jihad yang agung (HR. Abu Daud & Tirmizi).

Walaupun demikian, dalam menasihati pemimpin ada adab tersendiri, yaitu dengan cara yang lembut (layyin) sebagaimana Nabi Musa as. dan Harun as. Saat menasihati Firaun. []

Resume oleh: Teguh Wahyudi

Related Articles